Kumpulan "kebahagiaan bersama" dalam "cinta" dan persahabatan.

Jumat, 23 Agustus 2013

Yang lain dalam cinta

Jenuh saat bercinta umumnya dialami oleh pasangan yang sudah menikah rata-rata diatas 6 tahun.

Hal ini wajar terjadi apalagi bila diantara pasangan ini ada kesibukan-kesibukan yang menyebabkan menurunnya kualitas hubungan intim. Namun, apabila pengantin baru sudah merasa jenuh bercinta, perlu diwaspadai apa yang jadi penyebabnya?
Salah satu penyebab utama wanita enggan bercinta adalah karena jenuh dan bosan. Berikut 7 penyebab wanita "mati gaya" di ranjang.
1. Minta izin
Meminta izin untuk melakukan suatu hal memang lazim dilakukan pasangan, tapi minta izin saat mengajak bercinta? Bisa bikin wanita hilang feeling. Pasangan yang baik harusnya mahir memamerkan mood dan hasratnya tanpa komunikasi verbal. Saling mengirim sinyal sebenarnya bisa dilakukan lewat tatapan mata penuh cinta atau sentuhan lembut.
2. Bisa ditebak
Diawali dengan kecupan di bibir, turun ke bagian dada, lalu langsung "menerkam"? Wah, kalau istri Anda sampai hapal jurus-jurus pemanasan yang Anda lakukan, itu artinya Anda termasuk orang yang membosankan di ranjang.
Jangan pernah berhenti mengeksplorasi hal-hal yang membuat Anda berdua menikmati tiap sesi bercinta. Misalnya saja dengan memperpanjang waktu pemanasan atau membisikkan cerita erotis dan fantasi seksual di telinga pasangan sambil memijat lembut lehernya untuk mengobarkan hasratnya.
3. Terlalu mekanikal
Tiap wanita pasti tak ingin diperlakukan sebagai obyek seksual semata. Bagi wanita, hubungan seksual seharusnya bertujuan untuk mencapai kenikmatan fisik dan emosional bersama. 
Karena itu, jangan tutup mata terhadap kebutuhan wanita akan perhatian, kelembutan, dan cinta. Mewujudkan keinginannya atau mendekapnya dengan lembut seusai bercinta bisa jadi media untuk mengekspresikan cinta Anda.
4. Kurang romantis
Tiap wanita suka dimanjakan dan diperlakukan romantis oleh pasangannya, paling tidak sesekali. Karena itu, meski Anda hebat di ranjang, tetapi tak memahami kebutuhan tersebut, lama-lama gairahnya akan menurun.
Bila Anda bukan tipe pria yang romantis, lakukan hal-hal sederhana tetapi kaya makna. Misalnya saja memuji kecantikan pasangan, menemaninya nonton film favoritnya, atau menggandeng tangannya di tempat umum, sudah bisa membuat hatinya luluh.
5. Lokasi yang sama
Tempat tidur memang tempat paling nyaman untuk bercinta, tetapi sesungguhnya banyak tempat yang bisa dieksplorasi untuk menggapai nikmatnya surga dunia. Bercinta di ruang tamu, kamar mandi, di pantai, atau dalam mobil pribadi, pasti menambah sensasi tersendiri.
6. Terlalu ribut atau terlalu pendiam
Ekspresi suara yang berlebihan atau sebaliknya terlalu sepi, keduanya bisa menurunkan gairah yang semula menggebu-gebu. Jadi, ungkapkan cara yang tepat untuk menunjukkan Anda menikmati sesi bercinta tanpa perlu seluruh tetangga mendengarnya. Asal tahu saja, suara-suara tertentu bisa membuat hasrat wanita lebih berkobar.
7. Minus eksperimen
Puas dengan satu gaya bercinta bukan berarti harus diulangi setiap berhubungan seks. Ciptakan variasi untuk menambah sensasi kenikmatan dan menghindari kebosanan. Menggunakan sex toys mungkin bisa dijadikan pilihan untuk membuat acara bercinta yang monoton kembali berkobar.

Tapi perlu juga diingat sex toy kadang membuat pasangan merasa tidak nyaman apabila terlalu sering diexplorasi karena dapat mengganggu keintiman yang terjadi bahkan saat semangat tidak mood sekalipun.

Untuk solusi yang satu ini kita harus bijak menggunakannya terutama saat kita berada didekat pasangan kita.

Selamat menghadapi hidup anda.
Share:

Tentang tukar pasangan sex

Fenomena bertukar pasangan dalam berhubungan intim antar pasangan suami istri saat menjadi hal yang mulai popular ditemui dalam masyarakat. Hal ini mulai menggeser nilai2 norma yang selama ini dipegang kukuh.
Berbagai media menjadi sarana bertemunya para pelaku tukar pasangan terutama jejaring sosial didunia maya baik itu facebook, twiter, netlog, linkedin dan sebagainya
Dalam tulisan ini saya selaku penulis akan mengulas Fenomena bertukar pasangan atau yang lazim disebut Swinger dari sisi positifnya, karena menurut pandangan saya memang aktivitas ini memiliki sisi positif yang jauh lebih banyak daripada sisi negative yang ditimbulkan, setidaknya sampai tulisan ini saya luncurkan 
SWINGER atau bertukar pasangan, adalah suatu aktivitas seksual antara 2(dua) atau lebih pasangan suami istri resmi yang dilakukan secara sukarela dan dalam batas alam sadar para pelakunya.Hal ini berbeda dengan fenomena orgy atau pesta seks dimana pelakunya rata-rata bukan merupakan pasangan suami-isteri resmi/syah
Berbeda dengan orgy, swinger dilakukan dengan memiliki tujuan yang lebih spesifik atau kalo boleh dikatakan swinger adalah aktivitas sex yang dilakukan dengan tujuan yang mulia selama tidak dikaitkan dengan keberadaan agama dan norma.Mulia yang saya maksud adalah demi menjaga keutuhan rumah tangga yang dibina sepasang suami-isteri.Hasil survey yang saya lakukan selama kurang lebih 2 tahun yang melibatkan lebih dari 1000(seribu) responden dimana 1 responden mewakili 1 pasangan suami-isteri resmi yang artinya 1000 responden = 1000 pasangan suami-isteri, saya menemukan hasil yang mencengangkan. 
Lebih dari 85% responden menyatakan tertarik untuk melakukan hubungan intim dengan laki-laki atau perempuan yang bukan pasangan resminya. Responden yang saya maksud disini adalah mereka yang menikah lebih dari 6tahun, hidup mapan, sudah memiliki momongan dan tinggal dirumah sendiri atau tidak bersama denga orang tua. Artinya bahwa memang rata-rata pasangan suami isteri yang telah menikah lebih dari 6th memiliki tingkat kejenuhan dalam melakukan hubungan intim dengan pasangannya, meskipun bukan berarti ingin mengakhiri pernikahannya.
Hasil survey inipun saya lakukan dengan batasan dimana mereka (suami-isteri) menyatakan keinginan mereka secara terpisah, tanpa sepengetahuan pasangan masing-masing, karena menurut saya hal ini lebih merepresentasikan apa yang diinginkan setiap manusia secara natural/alamiah.Lain halnya para pelaku swinger yang secara terang-terangan mereka berdua sudah saling sepakat untuk melakukan aktivitas tersebut dan menyatakannya meskipun masih didalam kerangka komunitas mereka saja. Mereka juga mengatakan tidak dengan mudah melangkah sampai sejauh itu. 
Mereka membutuhkan proses yang tidak gampang untuk sampai pada titik kesadaran bahwa “aku mengijinkan suamiku untuk berhubungan badan/sex dengan wanita lain atau aku mengijinkan isteriku di tiduri pria lain”.
Tapi jangan salah..bukan karena prosesnya sulit kemudian aktivitas ini berkembang lambat secara jumlah. Secara statistic, pelaku swinger diindonesia jumlahnya    sudah    mencapai    ratusan      bahkan 
ribuan   pasang  dan   terus   bertambah, 
anda mungkin hanya tidak mengetahui atau mnenyadari kalau ternyata tetangga anda sering kedatangan tamu pasangan suami-isteri yang menginap dimana mereka datang sore atau malam dan pulangnya ke esokan pagi atau siangnya.
Salah satu faktor yang mempermudah dan menjadi percepatannya adalah bahwa sekarang swinger banyak dimulai dengan aktivitas yang biasa disebut dengan istilah softswing, yaitu aktivitas hubungan sex/intim 2(dua) atau lebih pasangan suami-isteri
resmi yang dilakukan oleh pasangan masing-masing artinya tanpa adanya pertukaran pasangan. Kadang juga dilakukan via webcamera, artinya pasangan suami isteri yang sedang melakukan hubunngan intim membiarkan aktivitasnya dilihat oleh pasanga lain yang berada dibelahan bumi yang lain melalui web camera begitu pula sebaliknya.
Share:

Sekilas swinger

Swinger cenderung dilakukan oleh pasangan suami istri atau pasangan kekasih yang ingin merasakan sensasi berbeda dari sebuah perilaku seks. Jangan membayangkan para pelaku swinger yang memasuki kepala 3 atau 4, kini pergesaran swinger sudah merambah ke yang kepala 2, karena dianggap lebih kuat, lebih “liar” dan lebih menggoda serta lebih open minded. Satu hal yang harus digaris bawahi, pelaku swinger ini bukanlah para PSK ataupun gigolo, karena mereka sangat hati-hati dalam “bermain”.

Bicara sejarah, swinger memang bukan fenomena baru. Sejak berabad lalu berbagai literatur telah menggambarkan perilaku saling bertukar pasangan seksual ini. Bahkan di Eropa, sedikitnya tercatat seribuan klub yang aktif. Di Jakarta sendiri, para swinger ini saling bertemu di sebuah kafe atau klub malam, bila cocok maka tinggal mencari kamar di hotel.
Untuk mengetahui lebih jauh mengenai swinger ini, saya mencoba menghubungi sebuah no handphone yang saya dapat dari sebuah iklan.
Indra, sebuat saja begitu, pria 39 tahun ini mengaku baru pertama kali melakukan swinger. Istrinya sendiri berusia 38 tahun, dan memiliki 3 orang anak. Diakui Indra, awal dirinya mengetahui swinger dari sekedar iseng browsing dunia maya dan mendengar dari mulut temannya. Menemukan sebuah forum bagi pecinta swinger, akhirnya dia mulai ikut-ikutan promosi. Keinginannya buat swinger pun bukan keinginan sepihak, tapi juga mendapat restu dari sang istri. Tak tanggung-tanggung dirinya mengizinkan bila nantinya dia melakukan aktivitas seks dengan istri partnernya ataupun bila sang istri dipake oleh suami sang partner. Dia juga tidak menampik bahwa dirinya lebih suka bermain “keroyokan”.
Tidak hanya itu, dia dan istrinya mau swinger atau threesome dengan orang lain hanya untuk mendapatkan SENSASI BERBEDA DALAM MELAKUKAN AKTIVITAS SEKS. Saya pun coba bertanya, apa dia mau threesome dengan saya? Terdengar santai, dia pun langsung mengiyakan. Bahkan dirinya akan semakin bergairah bila melihat istrinya “digoyang” pria lain. Masalah tempat tidak perlu dipertanyakan, bila cocok langsung tinggal booking sebuah kamar. Untuk pembicaraan selanjutnya, tidak perlu saya beberkan karena sudah mengarah ke pembicaraan yang lebih intim, maaf.
Dengan melihat rasa santai dari Indra dalam berkomuniksi dengan saya, sepertinya dia sudah paham betul dengan apa yang akan dia lakukan. Sensasi berbeda adalah sesuatu yang ingin dirasakan para swinger agar mendapat kepuasaan tersendiri. Bukan cuma di ibukota, swinger juga sudah merambah ke semua kota-kota besar di Indonesia. Swinger juga belum dapat dikatakan sebagai gaya hidup karena belum ada penelitian yang memberikan data valid.
Namun yang pasti, rata-rata pelaku swinger adalah para pasangan yang memiliki hidup mapan akibatnya swinger terlihat seperti kebutuhan tersendiri dalam mencari kepuasan “ranjang”.
Disatu sisi, swinger jelas menggambarkan melorotnya moral dan batas-batas norma dalan kehidupan masyarakat. Sementara di sisi lainnya, swinger juga menjadi sebuah trend urban yang dilakoni oleh sebagian kecil masyarakat perkotaan. Meski masyarakat semakin acuh dan hidup egosentris, namun bukan berarti perilaku yang bebas seperti swinger dapat dibenarkan. Perilaku hedonis memang cenderung merugikan dan kerap membawa pada degradasi moral generasi pelakunya.
Kini tentunya semua kembali kepada diri kita, mengagungkan ego dan kepuasan sesaat ataukah kembali pada nilai-nilai “usang” yang mungkin terdengar kolot, karena kita tahu konsekuensinya serta kemana muaranya.
Share:

POpCash

JUAL GANJA ACEH

Ada Stok GANJA
Menjual GANJA ACEH
Untuk Pengobatan Herbal di:
http://toko-ganja.blogspot.co.id

Lazada